: Busway dan Kemacetan

Sterilisasi busway yang diberlakukan Pemerintah DKI Jakarta ' berdampak pada kemacetan lalu lintas yang parah di jalur umum. Kemacetan parah ini karena kendaraan pribadi tak bisa lagi seenaknya masuk ke jalur busway. Ada sisi positif maupun negatif diberlakukannya sterilisasi jalur busway. Penumpang TransJakarta lebih lancar dan tepat waktu. Sedangkan sisi negatifnya, kemacetan semakin parah. 

Sebagai Kota Metropolitan, wilayah Jakarta yang luasnya mencapai 661,52 km dan berpenduduk kira-kira 9,6 juta orang adalah daerah termacet ke-14 di dunia. Sejak awal pemberlakuan busway enam tahun lalu sebenarnya sebagai solusi mengatasi kemacetan. TransJakarta atau umum disebut busway adalah sebuah sistem transportasi bus cepat.

Sistem ini dimodelkan berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Perencanaan busway telah dimulai sejak 1997 oleh konsultan dari Inggris. Pada waktu itu, direncanakan bus berjalan berlawanan dengan arus lalu lintas (contra flow) supaya jalur tidak diserobot kendaraan lain, namun dibatalkan dengan pertimbangan keselamatan lalu lintas. Meskipun busway di Jakarta meniru negara lain (Kolombia, Jepang, Australia), Jakarta memiliki jalur yang terpanjang dan terbanyak.

Namun, seiring waktu, busway ternyata tidak memecahkan masalah kemacetan di Jakarta. Setahun terakhir ini, kita malah semakin jengkel dengan kemacetan yang terjadi hampir setiap jam dan justru bukan di jam-jam yang sibuk. Kalau kita melihat penyebab kemacetan di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia ialah dikarenakan 'salah urus' pemerintah, baik pusat maupun daerah. 

Menurut data dari Departemen Perhubungan, setiap tahun pertumbuhan kendaraan naik sebesar 11 persen. Sayangnya, pertumbuhan kendaraan ini tidak dibarengi oleh pertambahan ruas jalan. Di Jakarta saja, misalnya, sebanyak lima juta kendaraan lalu-lalang di jalanan hampir setiap harinya. Sedangkan penambahan ruas jalan hanya 1-2 persen. Akibatnya, setiap hari jalanan semakin ditumpuki oleh jutaan kendaraan.
 
Saat ini, kendaraan pribadi di Jakarta jumlahnya mencapai 2.034.943 unit. Sementara itu, kendaraan umum hanya berjumlah 847.259 unit dan melayani 70 persen dari total penduduk Jakarta. Persoalan sistem transportasi modern dan massal memang sudah dikaji oleh pemerintah. Sayangnya, penggunaan sistem busway tak efektif jika pemerintah tidak berani mengurangi porsi kendaraan pribadi. 

Selain mengurangi kemacetan, pengurangan kendaraan pribadi juga sekaligus untuk mengurangi emisi dan menghemat BBM. Kendaraan mewah di atas 2500 cc misalnya, pajaknya harus dinaikkan sampai 200 persen. Atau mungkin kalau mau lebih radikal seperti yang dilakukan Pemerintah Singapura yang memberlakukan pajak progresif bagi pemilik kendaraan pribadi lebih dari satu. Ini bisa menjadi solusi pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan sistem transportasi yang baru. 

Namun, semua ini juga harus kembali kepada kebijakan pemerintah. Sudah saatnya sistem transportasi publik ditanggung negara sehingga bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Pemerintah pun harus menjaga supaya transportasi umum bersih dan nyaman ketika digunakan. Tak ada lagi cerita gengsi dan malu jika seorang eksekutif, pejabat, pengusaha, hingga artis menggunakan transportasi umum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar