Amanah Publik

Amanah Publik

Oleh Abdullah Hakam Shah

Amanah publik bukan arena untuk orang sembarangan. Sebab, amanah ini akan menggiring setiap orang yang mengembannya kepada dua pilihan yang terjal: kehinaan atau kemuliaan, 'racun' atau 'madu', neraka atau surga.

Demikian beratnya konsekuensi dari amanah ini, Allah SWT memberikan metafor bahwa langit, bumi, dan gunung-gunung tak akan mampu memikulnya. ''Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu. Mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan, dipikullah amanah itu oleh manusia.'' (QS al-Ahzab [33]: 72).

Oleh karena itu, ketika Rafi' bin Umar meminta nasihat kepada Abu Bakar RA, sahabat utama Rasulullah SAW tersebut berpesan singkat, ''Jangan pernah mau jadi pemimpin.''

Rafi' menyela, ''Anda menasihati saya agar menjauhi kepemimpinan, tapi Anda sendiri menjadi khalifah.''

''Ya, dan saya kukuh pada nasihat tadi. Karena siapa pun yang menjadi pemimpin, lalu tidak berlaku adil, laknat Allah akan merundungnya,'' jawab Abu Bakar RA.

Tetapi, bagi pejabat publik yang adil, pahalanya amatlah agung. Ia akan menjadi salah satu dari tiga golongan yang kelak pertama kali masuk surga (HR Muslim). Dan, ia akan dinaungi pertolongan Allah SWT pada saat kebanyakan manusia tak memperoleh 'uluran tangan'-Nya (HR Tirmidzi).

Imam al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin mencoba menawarkan batasan kualifikasi, ''Orang-orang tertentu yang kuat agamanya sebaiknya tidak menolak amanah publik. Sementara mereka yang lemah, jangan pernah menyodorkan diri untuk mengembannya.''
  
Agar bisa mengemban amanah publik dengan baik, di antara tradisi terpenting yang harus dibangun: seorang pejabat perlu menjaga jarak dengan kemewahan dunia. ''Yaitu, dengan mengambil lebih sedikit dari haknya,'' jelas al-Hujwiri, ''Dan, memberikan kepada rakyat lebih banyak dari hak mereka.''
  
Sejarah selalu mencatat dengan tinta emas para pejabat publik, yang mengedepankan hak rakyat daripada hak pribadinya. Misalnya, Umar bin Khaththab RA yang lebih suka mengenakan baju penuh tambalan, ketimbang membeli baju kebesaran khalifah dari uang baitul mal.
  
Demikian pula, dengan Umar bin Abdul Azis, yang di puncak kepemimpinannya hanya memiliki sehelai jubah lusuh yang melekat di badan. Padahal, saat itu, seluruh rakyatnya berhasil mencapai taraf kesejahteraan yang memadai. Sampai-sampai, semuanya tergolong sebagai muzakki (orang yang wajib mengeluarkan zakat) dan tak seorang pun pantas disebut mustahik (orang yang boleh menerima zakat).  
  
Pejabat publik semacam merekalah yang digambarkan Rasulullah SAW sebagai hamba yang paling dicintai Allah SWT. Mereka mulia di dunia, dikenang sepanjang masa. Dan kelak, di surga, mereka akan menikmati tempat yang paling dekat dengan-Nya (HR Tirmidzi).

Lupa Indonesia Raya

Episode Lupa Indonesia Raya
Gareng terkekeh-kekeh. Ponokawan yang matanya juling dan serbacacat ini mulai hepi. Istrinya akhirnya dapat panggilan syuting juga. Dewi Sariwati, namanya, akan main dalam film Lupa Indonesia Raya, bareng kelompok Band Kuburan yang akan membawakan hit Lupa Lupa Ingat. Dengan girang dan terpincang-pincang Gareng mendekati istrinya. ''Jadi, jam berapa nanti syuting?'' tanya Gareng. Sariwati bilang jam 2 malam. Jam 2 malam? Gareng kaget. Sergahnya, ''Itu syuting apa mau salat istiharah?''

Kontan istri Gareng cemberut, ''Ya syuting to Kang.'' Dasar Gareng, Ponokawan yang sering ngengkel alias menggemari perdebatan, omongan istrinya pun dibaliknya. ''O, syuting to,'' katanya sambil senyum kecut. ''Jadi kamu sudah tidak mau salat lagi?''

Aduh, menghadapi suaminya yang suka cek-cok lidah itu Sariwati berteriak seperti Peggy Melati Sukma: ''pusiiiiiing....''

Sariwati: Lho, ndak gitu. Kata Romo Semar, sembahyang itu niatnya bukan buat dipamer-pamer-no. Sampeyan ini bagaimana to? Kata orang-orang, Gareng itu anak Semar yang paling pinter. Paling suka Monalisa...

Gareng: Analisa...!!! Bukan Monalisa...

Sariwati: Lho, Monalisa itu bukannya yang disilet-silet di Malaysia to...?

Gareng: Aduh, itu Monahara.

Sariwati: Ndak tau ah...Pokoknya Sari dengar Kang Gareng itu Ponokawan yang paling suka merenung. Beda karo Bagong sing mbuethik dan bisanya cuma ngotot ndak pakai pikiran. Moso nek cerdas Sampeyan sampai lupa nasihat Romo Semar nek sembahyang bukan untuk ditunjuk-tunjukkan...

Gareng: Hmm...Begini. Duduk dulu, Kamu. Hmmm...Sebenarnya inti nasihat Semar bukan itu. Intinya, bagaimana sembahyang itu bisa mendorong seluruh hatimu untuk menolong orang lain. Itulah inti pergi ke masjid, gereja, vihara, kuil, dan sebagainya.

Woo...sebenarnya negeri ini nggak terlalu butuh campur ta­ngan modal asing untuk membuka lapangan kerja. Opo maneh kalau bantuan uang itu pake pamrih ngerukin kekayaan bumi Nuswantoro termasuk yang paling vital: air. Lho, iya to? Kalau sebagian besar warga sembahyangnya bener, artinya bergairah bantu-membantu, jutaan penganggur itu akan dapat ojir untuk membuka lapangan kerja sendiri...Kamu sebagai perempuan, sebagai istriku, ndak perlu keluyuran malam-malam koyok burung hantu...

Sariwati: Wadoh, saya ndak keluyuran kok Kang. Saya bantu suamiku cari duit. Aku apa tadi...syuting. Lihat ini, surat panggilannya...Scene 74, adegan di Stadion Tambak Boyo, bersama Mbah Marijan...

Gareng: Lho, nggak jadi dengan Mbah Surip...?

Sariwati: Oalah Kang... Mbah Surip kan sudah nggak ada. Sampeyan iki lho, sita'e ta.Sampeyan anak raja jin Resi Sukskati di Kerajaan Bluluktiba. Lha kok matanya nggak bisa awas bahwa sesungguhnya...

Gareng: ...Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penja...

Sariwati: Hush! Bahwa sesungguhnya Mbah Surip itu sudah meninggal. Wah, nyesel saya dulu mau dikawin sama Kakang kalau ternyata Sampeyan nggak beda sama laki-laki biasa. Eh, tahu nggak, dulu saya itu mau dinikahi Kang Gareng juga lantaran opo coba?

Gareng: Lantaran aku ngguaanteng koyok Ariel Peterpan.

Sariwati: Berarti aku podo karo Luna Maya yo?

Gareng: Hush! Coba kamu mangap. Haak...haaaak...Ayo...Hmmm. Ndak, kamu bukan Luna Maya. Luna itu nek mangap uayu. Coba, lihat, foto-fotone nduk ndalan-ndalan Raya Darmo, Embong Malang, Bubutan, Kali Mas, Rungkut, malah sak Indonesia...Semua mangap...seperti ini lho mulutnya Haaaaaaaa...

Sariwati: Emm...yo wis yo wis kalau aku bukan Luna Maya...

Gareng: Lho, Dik, Dik, Dik...Ojo merengut. Jangan mutung. Sini aku bopong kamu. Ayo...Ta' gendong...ke mana-mana...Ta' gendong...ke mana-mana...Ooo, Diajeng Dewi Sariwati, puteri Prabu Sarawesa dari Negara Purwaduksina...Ta' gendong ke man...

Sariwati: Aduh aduh, wis wis, sampe mau jatuh, mati aku...Kasihan tangan Kang Gareng yang sudah cacat. Wis...wis. Kalau aku bukan Luna Maya berarti Kang Gareng memang bukan Ariel Peterpan. Tapi itu malah yang bikin saya kelimpungan karo Kang Gareng.

Kata orang tangan Kang Gareng yang cacat, yang ceko, menunjukkan Kang Gareng tidak mempunyai hasrat untuk mengambil yang bukan haknya...

Gareng: He he...

Sariwati: Kata orang kaki Kang Gareng pincang, menunjukkan dalam menjalani hidup ini Kang Gareng sangat berhati-hati...

Gareng: He he...

Sariwati: Kata orang mata Kang Gareng juling menunjukkan pandangan Kang Gareng cukup awas, bisa ke mana-mana. Tunjukkan kenapa kok Kang Gareng bilang Mbah Surip masih hidup.

Gareng: Jelas. Orang yang kerjaannya menggendong-gendong orang lain, sekarang masih hidup dan makin banyak. Golkar dan PDI-P saja sekarang sudah menunjukkan gejala-gejala merapat dan menggendong Pak SBY.

Bagong: Itu bukan nggendong, Goblok! Itu sebetulnya mau menjerumuskan. Itu kejeliannya Mbah Surip. Dikira dia mendukung seseorang. Belum tentu. Eling hanacara. Orang Jawa juga persis aksara itu. Vokal-vokal aksara Jawa itu kalau dipangku, digendong, dijunjung, malah mati dadi konsonan. Gareng katanya pinter jebul goblok.

Gareng: Eh, kamu malam-malam kok ujug-ujug datang...

Bagong: Mau mengantar Mbakyu Sariwati ke Tambak Boyo. Syuting film Lupa Indonesia Raya ... Ayo Mbakyu...

Sariwati: Nggak jadi saja.

Bagong dan Gareng: Lho?

Sariwati: Percuma. Filmnya nanti juga nggak bakal ada yang nonton. Karena, sebagai pemain, saya belum pernah disilet-silet di Malaysia.
Katanya

Mudik yang Mencerahkan

Mudik yang Mencerahkan

Oleh Dr Ahmad Tholabi Kharlie

(Lektor Kepala Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Jakarta)

Di negeri kita, mudik untuk berlebaran di kampung halaman tidak hanya telah menjadi tradisi tahunan. Tapi, lebih dari itu, ia menjadi alternatif pemenuhan hasrat dan kerinduan akan asal muasal. Inilah sebab mengapa orang demikian menggebu untuk berlebaran di kampung halaman.

Dalam pelbagai sumber otoritatif keagamaan, Lebaran atau Idul Fitri, digambarkan sebagai puncak kebahagiaan umat Islam setelah melampaui tempaan selama sebulan suntuk dalam madrasah puasa sehingga disebut sebagai hari kemenangan. Maka, Lebaran dalam konteks yang lebih relevan hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah memenangi 'pertempuran' melawan hawa nafsu, yang oleh Rasulullah dinilai lebih dahsyat dibanding Perang Badar.

Namun demikian, jika kita cermati lebih mendalam, momentum Lebaran tidak sekadar memicu kegembiraan usai Ramadhan (farhatun inda al-ifthar ), tapi juga menggambarkan bagaimana manusia menemukan kembali hakikat dirinya ( man as a such ) sehingga melahirkan gairah spiritualitas yang murni sebagaimana manusia kala pertama dilahirkan. Tentu, keceriaan lahir dan batin ini akan kian terasa bermakna jika dirayakan di tempat asal bersama orang-orang terdekat.

Kecenderungan positif
Dalam diri manusia, telah dibekali dua potensi yang berbeda secara diametral, yakni keburukan ( fujur ) dan kebaikan ( taqwa ). Demikian Allah menginformasikan secara gamblang dalam Alquran (QS [91]: 8). Kedua potensi tersebut demikian inheren dalam diri manusia, tanpa terkecuali, sehingga tidak ada manusia yang  pure dalam keburukannya.

Begitu juga sebaliknya, tak seorang manusia pun yang senantiasa konsisten dalam kebenaran. Akan terus terjadi pasang surut sesuai dengan kodrat manusia yang sering kali berubah ( al-iman yazid wa yanqush ). Dalam kondisi semacam inilah, Allah memuji orang-orang yang senantiasa menyucikan atau mengasah potensi kebaikannya (QS [91]: 8).

Orang-orang semacam ini, digambarkan Alquran, akan meraih kebahagiaan karena senantiasa memerhatikan kebutuhan jiwanya yang haus akan spiritualitas yang sejati. Inilah yang diharapkan dari ibadah puasa yang diwajibkan kepada umat Islam sebagai wujud pengabdian hamba kepada Tuhan dan sarana  riyadhah ruhaniyyah atau pelatihan spiritual dalam rangka membentuk manusia paripurna, yang oleh Alquran disebut dengan takwa ( muttaqin ).

Menjadikan puasa sebagai wahana pembentukan jati diri yang paripurna tak lepas dari ketetapan Tuhan bahwa pada dasarnya manusia lebih cenderung pada aspek kebaikannya (QS [2]: 286). Dalam diri manusia, terdapat kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk berbuat kebajikan. Inilah yang disebut sebagai fitrah, yakni potensi sejati yang melekat pada diri setiap manusia. Tinggal seberapa besar upaya manusia untuk meraihnya. Maka, dalam konteks inilah, Islam menuntun umatnya melalui madrasah puasa di bulan Ramadhan.

Pada gilirannya, Ramadhan akan mentransformasikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Orang-orang yang sukses menjalani ibadah puasa akan menjadi manusia yang salih secara spiritual dan sosial. Pada kondisi semacam inilah, akan lahir sebuah  universal harmony , yakni suatu kesadaran yang telah membawa banyak manusia era ini pada konspirasi baru dalam melihat dunia. Oleh karena itulah, Idul Fitri menjadi lembaran baru untuk menatap dan menjalani hidup selanjutnya.

Makna eksoterik mudik
Tradisi mudik tidak hanya melahirkan nuansa kebudayaan. Karena, sebagai sebuah tradisi menyambut hari raya atau momentum penting lainnya, mudik juga dikenal di belahan dunia lain. Sebut saja tradisi Thanks Giving Days ala Amerika, di mana terjadi eksodus masyarakat secara besar-besaran menuju kampung halamannya, tak ubahnya mudik Lebaran di Indonesia. Inilah kecenderungan universal yang menandai datangnya peristiwa penting dan membahagiakan bersama sanak famili di kampung halaman.

Sebagai gejala sosial, mudik telah melahirkan ekses-ekses yang meluas, mulai dari kerawanan sosial, keamanan, hingga politik. Tak heran jika pemerintah dan segenap aparat keamanan menyikapi fenomena mudik secara khusus dan terprogram. Di pihak lain, keinginan untuk merayakan Lebaran di kampung halaman dan kerinduan akan indahnya romantika masa lalu ternyata tidak sedikit pun menyurutkan langkah orang untuk melakoni mudik meski sarat dengan rintangan, bahkan risiko yang tidak ringan.

Dari titik ini, tampak bahwa mudik bukanlah proses mudah, tapi sarat risiko. Orang yang akan mudik tentu memerlukan persiapan-persiapan yang memadai, mulai dari transportasi, stamina tubuh, bekal di perjalanan, dan buah tangan untuk famili di kampung halaman. Intinya, untuk dapat mudik, seseorang harus menyediakan modal yang besar dan pengorbanan. Namun, demi sebuah penemuan kembali akar kehidupan yang esensial serta asal muasal yang melahirkan cita kebahagiaan, seluruh pengorbanan dan rintangan tak lagi menjadi hambatan yang berarti. Inilah makna dan tujuan eksoterik yang dikandung dalam fenomena mudik.

Tentu, fenomena visual ini akan kian bermakna dan melengkapi etos spiritualitas Ramadhan jika ditransformasikan dalam konsep yang eksoterik. Kerinduan terhadap kampung halaman dan asal muasal lewat tradisi mudik dijadikan simbol atau ditindaklanjuti dalam bentuk kerinduan dan kebutuhan spiritualitas kita akan Tuhan dan potensi kebenaran yang inheren dalam setiap diri manusia. Mudik dalam konteks inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh agama kita, yaitu sebagai  manifestasi pelatihan spiritual yang telah digelar di bulan Ramadhan. 

Jika kita semua menyadari hakikat mudik dalam konteks spiritualitas tersebut, energi yang demikian besar yang kita keluarkan untuk sekadar berlebaran dengan sanak famili di kampung halaman, tentu akan juga dengan mudah kita keluarkan demi meraih kembali atau mudik ke fitrah kita masing-masing.

Kita tentu optimistis, ketika semua orang eksodus melakukan mudik pada fitrah kesucian, kemurnian spiritualitas, atau hakikat kebaikannya; tidak akan ada lagi kezaliman dan angkara murka di muka bumi ini. Semuanya berubah dan menjelma dalam tatanan masyarakat yang berkeadaban, penuh keadilan, dan diselimuti kedamaian. Cita mudik untuk menciptakan peradaban manusia yang lebih baik sejatinya kita wujudkan usai Ramadhan. Jika ini niscaya, mengapa kita tidak memulainya dari mudik tahun ini?  Wallahualam bisshawab .

Buaya Vs Cicak

Buaya Vs Cicak

Sarlito Wirawan Sarwono

Buaya lawan cicak. Itu adalah hiperbol KPK lawan Polri.

Entah berasal dari mana, hiperbol tersebut jadi bahan diskusi yang kian panas, lebih panas dari materi masalah itu sendiri.

Padahal, hiperbol itu belum tentu benar. Buktinya, pada permainan suit anak-anak, gajah kalah oleh semut. Padahal, semut mati diinjak manusia dan manusia mati diinjak gajah. Masalahnya, giliran semut lawan gajah, semut tidak menginjak gajah, tetapi masuk kuping gajah, gajah pun mati. Jadi, siapa tahu cicak bisa membunuh gajah seperti David mengalahkan Goliath.

Padahal, segala sesuatu yang belum tentu benar, pasti bukan kebenaran alias tidak benar. Demikian dalil logika Aristoteles. Dan mereka yang ramai berdebat di media (dari pembawa acara, wartawan, pakar, anggota parlemen, LSM, tim pembela KPK atau pembela Polri, dan lainnya), semua berdiskusi tentang sesuatu yang tidak benar.

Jelas, dampaknya bukan makin benar, tetapi makin keblinger. Masalah tidak terselesaikan, yang muncul emosi belaka.

Taman kanak-kanak

Ketika menjadi presiden, Abdurrahman Wahid pernah menyatakan, anggota DPR seperti taman kanak-kanak. Saat itu, para anggota DPR yang amat terhormat itu marah. Namun, logika yang keblinger tidak terkait dengan kehormatan.

Para ulama Aceh keblinger saat ditipu Snouck Hurgronje. Para raja dan bangsawan Mataram keblinger saat menuruti kemauan Belanda untuk memecah wilayah Mataram menjadi empat. Kaisar Romawi Caligula menjadikan istananya ajang pesta seks.

Yang saya cemaskan adalah, kini bukan hanya DPR yang keblinger, tetapi yang lain-lain juga. Yang lebih mengerikan adalah jika para petinggi KPK yang kini menjadi tersangka, tidak hanya sekadar dikriminalisasi (nanti bisa diklarifikasi di pengadilan), tetapi benar-benar sudah terlindas gelombang keblingerisasi.

Banyak yang berargumen, KPK adalah institusi yang berani memberantas korupsi tanpa pandang bulu (padahal semula KPK dituduh tebang pilih). Lalu dideretkan sejumlah contoh, para tokoh penting yang dijerat hukum oleh KPK. Termasuk di situ kasus Aulia Pohan, besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri.

Ini keblinger lagi. Secara logika, tak ada hubungan kasus-kasus yang dilibas KPK (pada era Taufiequrachman Ruki) dengan kasus Bank Century (era Antasari). Atau dalam bahasa logika, premisnya tidak sah, tidak nyambung, sehingga kesimpulannya pun salah.

Contoh premis yang tak nyambung sering saya sampaikan di kelas "Logika" di Universitas Indonesia, seperti ini, "Manusia bernapas. Mohamad Ali bernapas. Jadi, Mohamad Ali adalah manusia. Betul tidak?" Maka, semua mahasiswa akan menjawab, "Betuuul...." "Tidak betul," kata saya. "Coba tukar kata Mohamad Ali dengan kucing; Manusia bernapas, kucing bernapas, jadi kucing adalah manusia. Salah, kan?"

Kipas-kipas mencari angin

Jikalau murid taman kanak- kanak belum bisa berpikir logis, itu wajar. Namun, jika orang dewasa, politisi, jurnalis, pakar, doktor, profesor, juga tidak bisa berpikir logis, ini keblinger. Psikologi menjelaskannya sebagai gejala gangguan emosi sehingga rasio tidak jalan. Makin panas emosi kita, makin tidak logis jalan pikiran kita. Makin tidak logis pikiran kita, makin ngawur tindakan kita. Kalau tidak percaya, rekam perdebatan suami-istri yang sedang bertengkar hebat. Akan kita dengar kata-kata dan kalimat-kalimat mereka tidak logis belaka.

Nah, untuk menjaga agar bangsa dan negara kita tidak makin keblinger, maka kita perlu ikut nasihat para orangtua zaman dulu (termasuk nasihat ayah saya), yaitu "kipas-kipas mencari angin, badan boleh panas tetapi kepala tetap dingin".

Sarlito W Sarwono Ketua Program Kajian Ilmu Kepolisian, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia

Ibu Sejati (kisah abu nawas)


PDF Print E-mail

Kisah ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda.

Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama ingin memiliki anak. Hakim rupanya mengalami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadi ibu bayi itu.

Karena kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja untuk minta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktik rayuan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salah satu, wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saling mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Baginda berputus asa.

Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan Baginda memanggil Abu Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak mau menjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akal seperti yang biasa dilakukan. Padahal penundaan itu hanya disebabkan algojo tidak ada di tempat.

Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggrl algojo dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja.

"Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?" kata kedua perempuan itu saling memandang. Kemudian Abu Nawas melanjutkan dialog.

"Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?"

"Tidak, bayi itu adalah anakku." kata kedua perempuan itu serentak.

"Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata." kata Abu Nawas mengancam.

Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan kedua menjerit-jerit histeris.

"Jangan, tolongjangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya diserahkan kepada perempuan itu." kata perempuan kedua. Abu Nawas tersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsurig menyerahkan kepada perempuan kedua.

Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Karena tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di depan mata. Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan Abu Nawas. Dan .sebagai rasa terima kasih, Baginda menawari Abu Nawas menjadi penasehat hakim kerajaan. Tetapi Abu Nawas menolak. la lebih senang menjadi rakyat biasa.

Idul Fitri untuk Kemanusiaan

Idul Fitri untuk Kemanusiaan

Oleh Radea Juli A Hambali

Idul Fitri merupakan puncak spiritual dari rangkaian ibadah puasa yang dilaksanakan selama sebulan. Secara substansial, Idul Fitri menegaskan sebuah keyakinan bahwa manusia telah kembali kepada bentuk asli dan primordial, yaitu "kesucian".

Kesucian itu terletak pada penegasan dan pendakuan Tuhan sebagai "Yang Awal" dan "Yang Akhir" kehidupan. Sejatinya, manusia memiliki ikatan yang selalu terhubung dengan Tuhan, tetapi karena kelemahan dan pesona dunia, ingatan dan keterhubungan manusia dengan Tuhan itu mudah terganggu. Idul Fitri adalah momen spiritual yang membangkitkan kembali ingatan manusia tentang adanya keterhubungan dengan "Yang Asal".

Menurut Agustinus, relasi manusia dengan Tuhan adalah relasi paling dasariah. Namun, di tangan sebagian orang yang berpikiran sempit, relasi ini sering dimaknai berlebihan, bahkan disalahgunakan.

Keterhubungan manusia dengan Tuhan sering dijadikan alasan untuk bertindak melewati batas-batas kewajaran. Keterhubungan dengan Tuhan sering menjadi godaan untuk menegasikan hak-hak dasar kemanusiaan dan merusak sendi-sendi kehidupan bersama.

Hasrat untuk mendominasi

Terorisme adalah tafsir yang berlebihan (atau malah menyimpang) dari pengakuan adanya keterhubungan itu. Namun, sejatinya, dalam tindakan-tindakan terorisme, tidak ada sedikit pun isyarat tegas tentang adanya keterhubungan otentik antara manusia dan Tuhan.

Sebab, manakala diakui bahwa manusia punya hubungan mesra dengan Tuhan, dengan sendirinya pengakuan itu harus menumbuhkan kecintaan dan penghormatan kepada sesama dan usaha memelihara kehidupan yang diberikan Tuhan untuk manusia.

Dalam salah satu karya terbesarnya, City of God, Agustinus memberikan isyarat terang bahwa hasrat untuk merusak tatanan kehidupan—yang mengejawantah dalam aksi-aksi terorisme—bermula saat dinamika daya manusia untuk mencintai dialihkan dari Tuhan kepada diri manusia sendiri.

Dipastikan, cinta diri yang melewati takaran selalu mengandung benih hasrat untuk mendominasi sesama. Akar dari hasrat untuk mendominasi sesama adalah kesombongan atau keangkuhan yang bisa dimaknai hasrat manusia untuk meniru juga memiliki daya tak terbatas dari Tuhan sebagai pencipta.

Impian untuk memiliki daya tak terbatas dari Tuhan, dalam genggaman orang yang memiliki kecintaan berlebih terhadap diri, bisa berubah menjadi malapetaka. Tuhan, juga doktrin agama, dapat dijadikan alasan pembenar untuk membelokkan arah dunia.

Dengan dalih kehidupan ini sudah menyimpang dan sesat, "telunjuk pengatur" Tuhan dipinjam dan dijadikan alasan untuk semua tindakan yang dilakukan meski tindakan itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan kehidupan bersama.

Cinta Tuhan, cinta manusia

Seturut dengan apa yang menjadi keyakinan Agustinus, cinta terhadap Tuhan sejatinya memampukan manusia untuk sanggup menolak bujuk rayu kesombongan atau keangkuhan itu.

Keterhubungan manusia dengan Tuhan yang sejati tidak mengurangi kemampuan untuk mencintai sesama, malah menjadi perekat dan penjamin yang menegaskan, hidup bersama itu harus diberi nyawa dan nutrisi melalui bela rasa, toleransi, dan semangat saling menjaga.

Idul Fitri bukan hanya momen spiritual, melainkan juga detik-detik fundamental yang berdimensi sosial ketika penghormatan terhadap martabat manusia ditegakkan setinggi-tingginya.

Kembali pada kesucian yang asli dan primordial, pada hakikatnya, merupakan tonggak pencapaian spiritualitas baru yang menegaskan suatu keyakinan bahwa manusia, apa pun agama, keyakinan, atau orientasi politisnya, adalah makhluk yang dimuliakan Tuhan sehingga harus dihormati juga dibela hak-hak keberadaannya.

Idul Fitri juga adalah momen kesadaran yang mengingatkan agama untuk bertindak efektif dan tampil sebagai protagonis yang piawai memosisikan dirinya sebagai "lembaga pengelola kekerasan". Agama ditantang untuk menjadi lembaga yang tidak hanya pandai menjaga dan memuliakan firman Tuhan, tetapi juga energik dalam membela hak, martabat, dan nyawa manusia.

Dalam terang Idul Fitri, agama harus tampil menjadi institusi pewarta ketuhanan yang maha esa yang amat istimewa, serta penegas kemanusiaan yang adil dan beradab.

Radea Juli A Hambali Dosen Filsafat pada Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung

Cara Memanfaatkan Internet

Siapakah di antara kalian yang gemar mengakses internet? Tahukah kamu bahwa teknologi yang satu ini banyak memberikan manfaat untuk kehidupan sehari-hari.

Kamu bisa menemukan artikel apa pun melalui mesin pencari Google, Yahoo, maupun yang lainnya. Bagaimanakah cara mencari sebuah artikel tentang olahraga, misalnya.

Langkahnya mudah sekali. Kamu tinggal mengklik alamat situs www.google.com apabila memakai Google. Lalu, tuliskan kata kunci yang kamu ingini, sepak bola contohnya. Nah, setelah kamu enter, puluhan bahkan ribuan artikel mengenai sepak bola pun langsung tampil di layar monitor.

Apakah kita bisa mencari gambar-gambar dan foto-foto? Tentu saja kita bisa berselancar mencari gambar dan foto di dalam internet. Kita bisa juga melakukan komunikasi dengan teman baik di Indonesia maupun dengan orang di seluruh dunia.

Di manakah kita bisa memanfaatkan fasilitas ini? Kamu bisa melakukan chatting, berkirim surat melalui surat elektronika atau tren disebut e-mail.

Bisakah kita menjadikan internet itu sebagai diary, semacam buku harian? Bisa sekali. Kita bisa menuangkan seluruh ide, gagasan, unek-unek, keluh kesah melalui Multiply, Blogger, Wordpress, Friendster, Facebook. Bukankah lebih bermanfaat apabila kita menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk menaklukkan teknologi informasi, biar kita tidak termasuk anak gaptek (gagap teknologi). Pergunakan waktu luangmu untuk belajar berinternet.

Apalah arti waktu luang kalau tidak digunakan sebaik-baiknya.

Tujuan Periklanan

Ada beberapa cara untuk menentukan tujuan periklanan, yaitu :

1. Inventory Approach

Dalam pendekatan ini tujuan pengiklanan ditentukan atau diambil dari kumpulan berbagai tujuan perusahaan dilihat dari seluruh sudut pandang pemasaran perusahaan. Dengan pendekatan ini pemasar dapat menyadari bahwa ada banyak tujuan berbeda yang bias ditekankan dalam pengiklanan, dan pemilihan tujuan hendaknya mempertimbangkan tujuan pemasaran lainnya. Akan tetapi kelemahan dari pendekatan ini adalah bahwa tujuan yang dapat dipilih mungkin tidak feasible atau malah bertentangan.

2. Hierarchy Approach

Pendekatan ini didasarkan pada dugaan bahwa sebelum membeli produk, pelanggan melewati tahapan-tahapan variabel psikologis.

Oleh karena itu, tujuan periklanan haruslah menggerakkan tahapan-tahapan tersebut dalam suatu hirarki. Tujuan periklanan misalnya menarik perhatian awal pelanggan, persepsi, lalu perhatian yang lebih besar, dan minat membeli. Atau dapat pula mempengaruhi pemahaman perasaan, emosi, motivasi, keyakinan, minat, keputusan, citra, asosiasi, ingatan dan pengenalan pelanggan. Meskipun demikian, sulit sekali menghubungkan tujuan-tujuan itu dengan tujuan pemasaran. Selain itu pengukuran variabel psikologis juga sulit dilakukan dan bersifat subjektif apabila dibandingkan pengukuran pencapaian tujuan, seperti laba misalnya......

..... Selengkapnya>>> Tujuan Periklanan


.

Uang giral (Giro bilyet, Cek, Telegraphic transfer)

Uang giral adalah uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik setiap saat sesuai kebutuhan. Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja, sehingga masyarakat mempunyai hak untuk menolak jika ia tidak mau barang atau jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini.

Uang giral dapat ditarik dengan menggunakan cek, bilyet giro, dan perintah pembayaran (telegraphic transfer).

a) Giro bilyet adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau sarana perintah pembayaran lainnya dengan cara transfer uang. Giro sangat bermanfaat bagi pengusaha, karena dengan giro berbagai pembayaran untuk berbagai transaksi dalam jumlah besar tidak perlu dilakukan dengan tunai. Cukup dengan menggunakan selembar kertas cek (untuk pembayaran tunai) atau bilyet giro (untuk pembayaran nontunai)......

..... Selengkapnya>>> Uang giral (Giro bilyet, Cek, Telegraphic transfer)

.