: Kiai Haji Aqil Siradj yang Saya Kenal

Oleh Dahlan Iskan
(Dirut PLN)

Salah besar komentar pengamat yang mengatakan dengan terpilihnya KH Said Aqil Siradj sebagai ketua umum (tanfidiyah ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berarti golongan konservatif yang menang. Kiai Aqil adalah orang yang amat terbuka, moderat, pluralis, bahkan cenderung menggampangkan banyak hal.

Di mata Kiai Aqil Siradj tidak ada barang yang sulit, termasuk dalam beragama. Sampai-sampai muncul guyon di kalangan NU, seperti yang diceletukkan Kiai Ali Mashuri dari Sidoarjo, kalau Anda ingin menanyakan segi halalnya semua hal, bertanyalah ke Aqil Siradj. 

Sedangkan kalau menanyakan sudut haramnya semua hal, bertanyalah ke KH Ma'ruf Amin. Dengan terpilihnya Kiai Aqil Siradj boleh dibilang kepemimpinan NU akan lebih cair dan rileks. Akan kembali seperti saat dipimpin Gus Dur dalam skala yang lebih kecil. Seandainya yang terpilih adalah calon satunya, Slamet Effendy Yusuf, wajah kepemimpinan NU akan lebih politis, mirip ketika dipimpin KH Hasyim Muzadi.

Kiai Aqil Siradj sungguh sangat rileks. Bahkan, kini beliau tidak peduli lagi kalau ada orang yang salah memanggil namanya: Agil. Padahal, dulu, beliau selalu mengoreksi kalau ada orang yang memanggilnya Agil. Yang benar adalah Aqil. 'Q' di situ harus diucapkan lebih mendekati huruf 'K' daripada huruf 'G'. Atau tepatnya, harus diucapkan di antara bunyi huruf 'G' dan huruf 'K'.

Bagi yang tidak familiar dengan ucapan huruf Arab, kata 'aqil' memang akan diucapkan salah: Agil atau sekalian Akil. Saya pun yang bertahun-tahun sekolah di madrasah tidak biasa memanggil beliau secara benar. Saya selalu memanggil beliau dengan Agil. Ini gara-gara ada dua orang terkenal yang bernama Agil: KH Said Agil al Munawar (mantan menteri Agama di era presiden Megawati) dan H Agil H Ali (tokoh pers Indonesia).

Maka, ketika pertama kali mengenal beliau di Makkah, saya pun selalu memanggil beliau dengan Agil. Setiap itu pula beliau memberikan koreksi: Aqil! Waktu itu beliau masih mahasiswa program doktor Universitas Ummul Quro di Makkah. Sedangkan saya, bersama-sama tim dari Jawa Pos, sedang menerbitkan koran musiman di Makkah. 

Tentu kami sangat beruntung ada mahasiswa sekaliber Said Aqil Siradj bisa bergabung di tim kami. Waktu itu, kami belum memanggil beliau kiai. Kami memanggilnya Ustaz Agil. Saat itulah, selama dua bulan, kami bekerja bersama dalam satu tim siang malam. Dari situ pula, kami berkesimpulan bahwa mahasiswa satu ini sangat istimewa. Encer otaknya dan luas pandangan ilmunya.

Saya kaget ketika ada komentator politik yang mengatakan bahwa dengan terpilihnya KH Said Aqil Siradj sebagai ketua umum Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar di Makasar pekan lalu, berarti kemenangan kubu konservatif. Saya sama sekali tidak melihat kekonservatifan Kiai Aqil Siradj. Pandangannya mengenai apa saja benar-benar sangat terbuka dan luas. Dia selalu mempunyai dalil yang kuat untuk segala hal yang menyangkut hidup orang banyak. Setidaknya dia sangat berbeda dengan seorang mahasiswa doktor lainnya yang juga bergabung dengan tim kami.

Kalau yang satu tadi melarang kami menghidupkan TV yang disiarkan dari Libanon atau Qatar atau Mesir, Ustaz Aqil tidak begitu. ''Kalau mau nonton, nonton saja,'' katanya setelah mahasiswa yang satunya tadi tidak berada di kantor darurat kami di Makkah. 

Kalau Gus Dur merekrut Ustaz Aqil Siradj sebagai kader muda NU yang cemerlang, sungguh tidak salah. Sejak di Makkah itu pun kami sudah melihat bahwa mahasiswa ini akan menjadi seorang yang penting kelak di kemudian hari. Saya pun sudah melihat Ustaz Aqil Siradj saat itu sebagai 'Gus Dur muda'. Pandangannya benar-benar luas. Ilmunya amat banyak dan dalam. Disertasinya mencerminkan begitu banyak dan luas bacaannya: referensi di disertasinya seribu buku!

Yang juga mirip dengan Gus Dur adalah keberpihakannya terhadap golongan minoritas dan selera humornya! Humor-humor Kiai Aqil Siradj sangat kaya dan kelas tinggi. Suatu saat, ketika dia sudah menjadi beliau, saya berjanji bertamu ke rumah beliau di dekat rumah Gus Dur di Ciganjur. Ketika saya tiba di rumah beliau tepat jam dan menitnya, beliau langsung berkelakar mengenai kedisiplinan saya itu: ''Kini, saya tahu Anda ini pasti dari keluarga Masyumi!''

Lho apa hubungan Masyumi dengan kedisiplinan?
Inilah humor itu: Di masyarakat Indonesia ini, katanya, hanya dikenal empat golongan. Mereka yang disiplin tapi sembahyang, itulah Masyumi. Mereka yang tidak disiplin tadi sembahyang itulah NU. Mereka yang disiplin tapi tidak sembahyang, itulah PSI. Mereka yang tidak disiplin dan tidak sembahyang, itulah PNI. Saya langsung tertawa ngakak atas ketajaman humornya itu.

Langsung, saya harus mengakui bahwa sebagian besar keluarga saya memang Masyumi. Tapi, Masyumi yang agak aneh.  Ubudiyah (cara beribadah) keluarga saya sangat NU. Padahal,  ubudiyah -nya Masyumi biasanya sangat Muhammadiyah. Anehnya lagi, meski ubudiyah kami NU, aliran tarekat keluarga kami adalah Syatariah. Padahal, orang NU umumnya menganut tarekat Nahsyabandiyah. Kini, tentu lebih aneh lagi karena dengan latar belakang yang 'ruwet' seperti ini saya menduduki jabatan dirut PLN!

Saya melihat NU akan sangat 'ramah' di bawah pimpinan Kiai Aqil Siradj. Siapa pun akan merasa terpuaskan berdialog dengan kiai kelahiran Cirebon  tahun 1954 ini. Yang orientasinya salafi, akan termuarakan karena beliau memang santri pondok salafi kelas 'bintang sembilan' seperti Krapyak di Yogyakarta dan Lirboyo di Kediri. Yang berorientasi ke Arab, tidak diragukan. Beliau lebih 10 tahun tinggal di Arab Saudi. 

Golongan minoritas dalam Islam akan merasa aman karena beliau sendiri sampai pernah dicap sebagai penganut Syi'ah. Dan, golongan non-Islam akan sangat merasa aman karena pandangan Kiai Aqil Siradj yang sama pluralisnya dengan Gus Dur di bidang ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar