Bisnis Proposal: Personal Franchise

Edward Sardjono: Perkenalkan nama saya Edo, kali ini kita akan membicarakan mengenai sebuah konsep usaha yaitu waralaba pribadi atau personal franchise. Di era globalisasi ini, kita merasakan persaingan yang ketat di dunia usaha maupun dunia kerja. Ketatnya persaingan dirasakan baik oleh para pemilik usaha, profesional hingga tingkat karyawan. Dan semakin tingginya biaya hidup, biaya pendidikan anak, tunjangan kesehatan, dan jaminan hari tua, membuat banyak orang mencari alternatif usaha, maupun usaha mandiri. Konsep franchising bisnis atau waralaba merupakan salah satu peluang usaha yang kini berkembang pesat dan diminati oleh banyak kalangan. Kita tahu bisnis franchise atau waralaba kini bukan hanya berkembang di bidang makanan, namun meliputi properti broker, salon, rental VCD, bahkan masuk hingga bidang pendidikan. Keunggulan dari bisnis franchising adalah para pemegang lisensi atau ijin tidak perlu memiliki keahlian khusus, karena sudah disediakan sistem oleh perusahaan. Jadi jika kita ingin memiliki usaha sendiri atau ingin memiliki usaha lain di luar usaha yang telah kita miliki, franchising merupakan pilihan yang tepat saat ini. Namun untuk mendapatkan ijin atau lisensi sebuah franchise, diperlukan modal yang cukup tinggi, apalagi jika franchise tersebut sudah terkenal. Menurut buku The Cast Flow Quadrant, karangan Robert T. Kiosaki, ada sebuah konsep waralaba yang bisa dijalankan secara individual atau perorangan, yang disebut sebagai waralaba pribadi atau personal franchise. Yang menarik di sini adalah untuk mendapatkan ijin atau lisensi tidak diperlukan biaya yang tinggi, namun memiliki potensi yang tidak kalah dengan corporate franchise atau waralaba pada umumnya. Jadi semua orang yang ingin memiliki usaha sendiri, punya kesempatan yang sama untuk memiliki usaha personal franchise ini.

Dan saat ini di depan saya telah hadir beberapa orang yang telah menjalankan usaha waralaba pribadi ini, dan mereka memiliki usaha yang kini berkembang pesat. Yang pertama adalah Bapak Indra Kurniawan, beliau adalah seorang pengusaha dibidang distribusi consumer good di Jakarta.

Bapak Indra, apa yang membuat Pak Indra tertarik pada usaha personal franchise ini?

Indra Kurniawan: Saya melihat usaha personal franchise ini adalah usaha yang ada sistemnya. Dan saya sangat tertarik untuk memiliki usaha seperti itu. Sehingga suatu saat nanti apabila sistem ini sudah berjalan, maka usaha tersebut tetap akan tetap berjalan walaupun tanpa ada saya. Artinya saya tidak perlu bekerja selamanya.

Edward Sardjono: Ok, terima kasih Pak Indra.

Berikutnya hadir juga Bapak Hadi Santoso, seorang pengusaha printing tekstil dari Solo.

Pak Hadi, ini sangat menarik. Ya. Bapak sudah punya usaha printing tekstil yang tentunya saya yakin juga sudah mempunyai sistem sendiri, di perusahaan Bapak. Namun masih juga menjalankan usaha personal franchise ini. Apa yang membuat Pak Hadi tertarik, disini Pak?

Hadi Santoso: Yang jelas, sebagai pengusaha, saya tidak tertutup pada sebuah peluang. Dan memang konsep personal franchise ini menarik buat saya. Karena saya melihat, saya bisa memiliki bisnis kedua, atau second bisnis dalam hal ini. Jika ada dua sumber penghasilan mengapa tidak gitu Pak?

Edward Sardjono: Ok, terima kasih Pak Hadi. Nanti kita lanjutkan bincang-bincang kita.

Dan selanjutnya disini juga ada Bapak Made Sute Hanaya dari Denpasar Bali. Beliau pernah menjadi pimpinan cabang Bank Swasta Nasional di Denpasar, dan saat ini beliau memiliki usaha sendiri di bidang jasa konstruksi.

Pak Sute, apa yang membuat Bapak tertarik di bisnis personal franchise ini? Mengingat kalau saya melihat, seorang kontraktor pasti sudah sangat sibuk di lapangan Pak Ya?

Made Sute Hanaya: Justru itu Pak Edo. Usaha di bidang kontraktor sebenarnya stress full. Fluktuatif harga bahan baku, membuat keuntungan sulit bisa diprediksi. Bahkan, resiko menderita kerugian sangat tinggi dengan kondisi seperti saat ini. Saya melihat usaha personal franchise ini jauh lebih sederhana, tidak membuat stress, namun memiliki potensi masa depan yang lebih baik.

Edward Sardjono: Nah itulah ketiga narasumber yang telah menjelaskan mengapa mereka tertarik pada usaha personal franchise ini. Dan berikut ini juga hadir Bapak Leonard dari Yogyakarta. Boleh saya bilang beliau adalah seorang pengusaha muda, karena beliau masih seorang mahasiswa, namun sukses juga menjalankan usaha personal franchise ini.

Pak Leo. Apa yang membuat Bapak tertarik menjalankan usaha personal franchise ini Pak?

Leonard: Waktu itu saya memang sedang mencari-cari penghasil di luar kegiatan kuliah saya. Jadi waktu saya diperkenalkan dengan usaha personal franchise ini saatnya tepat sekali. Saya melihat potensinya. Jika saya dapat merintis usaha ini sekarang juga, mengapa saya harus menunggu lulus kuliah. Penghasilannya pun menurut saya sangat menarik karena lebih besar dibandingkan seorang lulusan S1.

Edward Sardjono: Terima kasih Pak Leo.

Kemudian disini juga hadir Bapak Soeprato dari Jakarta. Beliau saat ini masih aktif menjabat sebagai general manager di sebuah perusahaan distribusi berskala nasional.

Pak Soeprato. Karier Anda sudah begitu tinggi dan tentunya Anda sangat sibuk dengan pekerjaan Anda, dengan posisi tersebut. Nah, apa yang membuat Bapak tertarik di usaha personal franchise ini?

Soeprato: Begini Pak Edo. Secara karier terus terang saya merasa apalagi yang saya kejar ya? Karena di atas saya sudah langsung pemilik perusahaan. Nah saya tertarik di usaha ini karena saya memang sedang mencari usaha lain yang bisa menjadi usaha saya sendiri. Karena saya sadar bahwa karier saya di perusahaan kan tidak mungkin bertahan selamanya. Nah saya sempat menyelidiki beberapa peluang usaha seperti buka restoran, buka toko. Namun saya melihat potensi yang lebih baik dari usaha personal franchise ini.

Edward Sardjono: Terima kasih Pak Soeprato.

Dan narasumber kita yang terakhir di sini adalah Bapak Pengadi Hartono. Beliau adalah mantan manajer teknik di tiga perusahaan besar di Surabaya. Dan juga mantan seorang dosen. Dan kini beliau serius sekali menekuni usaha personal franchise ini dan sudah berkembang dengan besar.

Nah. Pak. Apa yang membuat Bapak tertarik menekuni usaha personal franchise ini sehingga Bapak memutuskan untuk alih profesi?

P. Hartono: Kalau saya Pak. Alasan utama yang membuat saya menjalankan personal franchise ini adalah kebebasan waktu. Jadi sebelas tahun saya bekerja di beberapa perusahaan. Yang saya alami adalah kejenuhan Pak. Pergi pagi pulang petang, pergi pagi pulang petang, itu terus yang saya lakukan, dan saya berharap bisa bebas waktu. Dan dari personal franchise ini saya mendapatkan jawabannya.

Edward Sardjono: Personal franchise atau waralaba pribadi saat ini menjadi usaha yang banyak ditekuni di kalangan pengusaha, profesional, maupun individu yang menginginkan memiliki usaha mandiri. Apa saja keunggulan dari waralaba pribadi ini mari kita tanyakan pada narasumber kita.

Pak Soeprato, setelah Anda menjalankan usaha ini menurut Anda, apa yang menjadi kelebihan usaha ini dibandingkan dengan usaha lain yang dulu Anda amati Pak?

Soeprato: Begini Pak Edo. Menurut saya kelebihan dari usaha ini adalah aspek membangun asetnya. Nah, sama seperti waralaba pada umumnya usaha ini ada sistem yang tinggal kita ikuti. Dan setelah sistemnya berjalan, kita tinggal nikmati hasilnya. Nah, artinya saya bisa memiliki aset yang akan terus memberikan penghasilan kepada saya walaupun katakanlah saya tidak bekerja lagi. Dan ini sangat berbeda dengan saat saya masih bekerja sekarang. Seandainya tiba-tiba saya tidak bisa bekerja lagi karena alasan kesehatan, atau karena diberhentikan dari perusahaan, atau alasan-alasan lain maka penghasilan saya langsung berhenti. Tapi di usaha ini saya yang menjadi pemilik usahanya, jadi tidak ada yang bisa memecat saya.

Edward Sardjono: Ok, terima kasih Pak Soeprato.

Nah, kalau menurut Pak Indra, bagaimana Pak?

Indra Kurniawan: Hampir sama dengan Bapak Soeprato. Dengan usaha ini saya bisa membangun aset yang menghasilkan pasif income. Karena usaha ini ada sistemnya. Sedangkan di pekerjaan saya sebagai distributor, semua masih bergantung pada aktifitas saya. Walaupun itu adalah usaha saya sendiri, justru rasanya saya dipenjara oleh pekerjaan. Dengan adanya target dan lain sebagainya.

Gimana dengan Pak Hadi?

Hadi Santoso: Betul sekali Pak Indra. Dalam usaha saya di printing tekstil ya, banyak faktor yang membuat saya merasa dipenjara oleh pekerjaan. Di bisnis tersebut saya tetap menjadi pembuat keputusan final. Jadi apapun tergantung dari saya. Bahkan berlibur dengan keluarga pun, pikiran saya tidak bisa terlepas dari urusan pekerjaan. Namun di usaha seperti personal franchise ini saya melihat bahwa saya bisa membangun aset yang bisa menghasilkan pasif income, tanpa saya harus terlibat di dalamnya selamanya.

Edward Sardjono: Baik Pak Hadi. Ya. Makin menarik perbincangan kita mengenai usaha personal franchise ini. Nah, apalagi disini juga hadir seorang mahasiswa yang juga berhasil di sini. Bagaimana komentar Pak Leo?

Leonard: Mungkin di sini saya yang paling yunior ya? Saya sendiri belum punya pengalaman apapun baik bekerja untuk orang lain maupun usaha sendiri, sehingga sulit bagi saya untuk membandingkan. Tapi mungkin justru disitulah letak keunggulan usaha personal franchise ini. Maksud saya dengan pengalaman nol di dunia kerja, saya tetap bisa mengembangkan usaha ini. Karena usaha ini sangat sederhana, dan sudah ada sistem yang bisa diikuti. Satu hal lagi yang menarik mengenai membangun aset tadi adalah bahwa usaha ini bisa diwariskan. Kebetulan ayah saya adalah seorang pegawai negeri sipil yang berpangkat 4C. Belum lama ini, ayah saya pensiun dari pekerjaan yang telah ditekuninya lebih dari dua puluh tujuh tahun. Dan tentu saja pekerjaan tersebut tidak dapat diwariskan pada saya. Dan seperti kata Pak Soeprapto, Pak Indra dan Pak Hadi tadi, di usaha personal franchise ini kita membangun sebuah aset yang nantinya bisa kita wariskan.

Made Sute Hanaya: Benar kata Pak Leo. Saya sendiri merasakan pernah 20 tahun bekerja. Saya baru sadar, bahwa pekerjaan saya tidak dapat diwariskan. Bahkan pekerjaan kontraktor saya pun, tidak mudah untuk diwariskan. Dan keunggulan lain di usaha ini, adalah saya bisa merintisnya tanpa harus meninggalkan proyek-proyek saya terlebih dahulu.

Mungkin Pak Hartono juga merasakan hal yang sama Pak?

P. Hartono: Justru itu Pak. Pada awal saya menjalankan bisnis ini, bisnis ini merupakan second bisnis saya. Tapi dengan berkembangnya aset yang saya bangun, saya jadikan bisnis ini main bisnis saya. Dan memang enak Pak. Karena saya sudah mempunyai usaha sendiri, saya dapat mengatur waktu kerja saya sendiri.

Edward Sardjono: Usaha personal franchise ternyata memberikan banyak keuntungan bukan hanya untuk golongan pengusaha bermodal kuat, namun juga menjangkau ke berbagai lapisan. Artinya usaha ini memiliki masa depan yang sangat cerah, yang mana telah terbukti di negara-negara maju. Bukan begitu Pak Hartono ya?

P. Hartono: Betul Pak. Ini adalah saat yang tepat untuk mengembangkan personal franchise. Apalagi kesadaran masyarakat makin tinggi dalam hal usaha sendiri, menciptakan aset dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat kita.

Leonard: Pak Edo, saya sangat setuju dengan Pak Hartono. Karena saya sendiri merasakan sebagai seorang mahasiswa punya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan sekarang ini sangat tinggi. Dan bisnis personal franchise ini sangat memungkinkan seorang mahasiswa seperti saya yang belum memiliki keahlian apapun dibidang usaha, bisa memulai merintis usaha mandiri. Dengan modal yang terjangkau juga bagi kalangan mahasiswa. Juga konsep usaha personal franchise ini bisa membuka wawasan para mahasiswa dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan untuk memiliki usaha sendiri.

Soeprato: Nah sebenarnya tidak cuma untuk mahasiswa Pak Leo. Menurut saya banyak juga para profesional yang juga mencari cari cara untuk memiliki usaha sendiri. Karena dengan punya usaha sendiri, pertama ada rasa aman, karena tidak khawatir jika terjadi apa-apa dengan perusahaan tempat kita bekerja. Yang kedua, kalau kita punya usaha sendiri waktu untuk keluarga menjadi lebih banyak dan lebih fleksibel. Dimana hal ini tentu sulit didapat jika kita masih bekerja ikut orang. Nah sayangnya banyak profesional yang belum tahu jenis usaha apa yang cocok mereka lakukan, karena kesibukan mereka di kantor, masalah keterbatasan modal dan lain-lain. Nah menurut saya usaha personal franchise ini, saya yakin akan menjadi pilihan yang baik bagi para profesional yang ingin merintis usaha pribadi mereka seperti yang telah saya lakukan.

Made Sute Hanaya: Saya ingin sedikit menambahkan Pak Soeprato. Personal franchise ini bagi saya adalah sebuah usaha sendiri yang sangat unik ya. Dulu, ketika saya memutuskan untuk alih profesi, dengan berhenti sebagai pimpinan cabang bank, dan menjadi seorang kontraktor, saya waktu itu pikir sudah mendapatkan apa yang saya inginkan. Mungkin memang benar ya, secara materi lebih besar yang saya dapatkan. Namun saya masih tetap harus bekerja terus-menerus untuk mendapatkan income tersebut. Ternyata tidak beda jauh dengan waktu saya bekerja sebagai pimpinan cabang bank dulu. Setelah saya menjalankan usaha personal franchise ini, saya sadar, ternyata sekarang saya tidak perlu bekerja selamanya. Karena nantinya ada sistem yang bisa `mengambil alih peran saya ini.

Leonard: Itu yang saya cari di usaha ini Pak Sute. Saya ingin suatu saat dapat memiliki usaha yang tetap akan berjalan walaupun tanpa kehadiran saya. Dan melihat dari kondisi saya saat ini, usaha personal franchise ini adalah usaha yang paling cocok untuk mewujudkan keinginan saya tersebut.

Hadi Santoso: Ya. Saya pribadi percaya, eh, dengan usaha personal franchise seperti ini saya sedang membangun aset di luar aset yang telah saya miliki saat ini. Ada filosofi seperti ini ya, ikan baru sadar ada air ketika ikan itu dikeluarkan dari air. Jadi seseorang baru merasa membutuhkan bisnis lain ketika orang itu, omset usahanya mulai menurun, tokonya mulai sepi atau bahkan ketika dia akan diPHK karena perusahaan di tempat ia bekerja goyang. Ya. Saya tidak mau itu terjadi pada saya. Saya membangun kolam yang lain pada saat saya belum betul-betul membutuhkan kolam tersebut. Jadi seandainya nanti ada sesuatu terjadi pada kolam saya, tinggal loncat saja ke kolam yang lain. Tapi kalau kedua-duanya jalan mengapa tidak? Ya. Jadi saya memiliki dua aset yang memberikan income bagi saya. Jadi saya sangat merekomendasikan usaha personal franchise ini bagi siapapun yang menginginkan mulai membangun aset.

Edward Sardjono: Personal franchise atau waralaba pribadi merupakan salah-satu peluang untuk memulai membangun usaha mandiri. Bila anda tertarik untuk melihat lebih dalam mengenai usaha ini, silakan hubungi orang yang meminjamkan bisnis proposal ini pada Anda.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Yang Lain