: Pertumbuhan dan Pemerataan

Pemulihan ekonomi dunia pascakrisis global tampaknya lebih cepat dari yang diperkirakan. Meskipun pada 2009 silam, pertumbuhan ekonomi dunia jatuh terpuruk, pada 2010 ini menunjukkan arah positif. Indonesia secara tidak langsung akan menikmati pertumbuhan positif itu sehingga target pertumbuhan yang 5,5 persen akan direvisi menjadi enam persen.

Pada 2009 silam, dari negara-negara yang tergabung di G-20, hanya Indonesia, Cina, dan India yang meraih pertumbuhan positif. Negara maju, seperti Amerika dan negara di kawasan Eropa negatif. Begitu juga, negara tetangga kita, seperti Malaysia dan Singapura tumbuh negatif.

Dari kondisi tersebut, kini Indonesia semakin diperhitungkan dalam percaturan perekonomian global. Apalagi, dengan penduduk yang mencapai 235 juta, Indonesia sekaligus menjadi magnet bagi pebisnis untuk masuk berinvestasi. Beberapa perbaikan infrastruktur meskipun masih jauh dari sempurna, turut mengakselerasi investasi.

Bahkan, meskipun peringkat korupsi di Indonesia masih berada di urutan atas, kepercayaan lembaga keuangan global meningkat. Ini terbukti dari penilaian lembaga internasional, Fitch Ratings, country ceiling Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dan mempertahankan  rating utang jangka pendek pada B. Kenaikan peringkat ini menaikkan kepercayaan investor untuk datang ke Indonesia.

Kini bisa kita lihat investasi, terutama investasi portofolio, baik lewat saham maupun surat utang negara, yang mengalir deras ke Indonesia. Terbukti, bursa saham dalam dua bulan terakhir ini melejit begitu cepat karena masuknya dana asing. Seiring dengan itu, rupiah juga menguat, sampai-sampai Bank Indonesia (BI) berusaha menahan agar apresiasi rupiah tidak di bawah Rp 9.000 per dolar AS.

Beberapa investasi sektor riil juga mulai terlihat. Beberapa perusahaan, terutama perusahaan sepatu, akan merelokasi pabriknya dari Cina ke Indonesia, setelah melihat Cina mulai tidak kompetitif dalam urusan perburuhan. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan pertumbuhan investasi pada 2010 naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp 160 triliun.

Kita berharap berita baik tentang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ini bisa tercapai. Dengan perhitungan setiap pertumbuhan satu persen mampu menyerap tenaga kerja sampai 400 ribu tenaga kerja, berarti dengan pertumbuhan enam persen akan menyediakan peluang kerja 2,4 juta orang. Jumlah tenaga kerja yang terserap ini terkait dengan kualitas pertumbuhan ekonomi.

Dalam pertumbuhan ekonomi ini, yang tak kalah penting adalah pemerataan. Jangan sampai pertumbuhan yang relatif baik itu hanya dinikmati oleh golongan atas yang kekayaannya makin melangit. Tidak ada artinya pertumbuhan tinggi jika kemiskinan masih merajalela di hadapan kita sendiri. Pertumbuhan yang berkualitas adalah jika terjadi percepatan dalam pengangkatan derajat orang miskin.

Kita bangga bahwa ada sebagian warga kita yang masuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Akan tetapi, kebanggaan itu juga membuat kita malu karena ternyata masih ada puluhan juta rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Inilah pekerjaan rumah bagi pemerintah, yakni membuat pertumbuhan ekonomi tidak hanya memperkaya sebagian orang, tetapi juga bisa dinikmati seluruh penduduk negeri.

1 komentar:

  1. Kalau menurut saya hal ini bukan hanya PR pemerintah, tetapi juga kita. Karena dalam sistem demokrasi, peran serta aktif dari masyarakat madani sangatlah diutamakan.

    Semua masyarakat berperan layaknya pemerintah: Berkarya demi kebermanfaatan bersama. Pebisnis dengan hartanya, Akademisi dengan ilmunya, artis dengan hiburannya, dll.

    BalasHapus