Pasar Memang Kejam

Pasar Memang Kejam, JAL!

Satu lagi simbol kebanggaan Jepang, ambruk. Japan Airlines (JAL), selama hampir lima dekade, menjadi lambang sukses ekonomi Jepang akhirnya tidak mampu tampil sebagai pemenang di tengah kompetisi global yang ketat. Kemarin, JAL resmi mengajukan perlindungan kredit dari kebangkrutan di bawah Hukum Rehabilitasi Perusahaan. 

Tak tanggung-tanggung, perusahaan penerbangan terbesar di Asia dari sisi pendapatan itu terbebani utang hingga 22 miliar dolar AS atau sekitar Rp 220 triliun. Jelas ini bukan jumlah utang yang sedikit. Angka utang satu perusahaan Jepang itu hampir seperempat dana di APBN negara kita yang mencapai Rp 1.000 triliun.

JAL nyaris mati bukan karena persoalan profesionalisme yang lemah, atau masalah sumber daya manusia (SDM) yang tidak bermutu. JAL, yang harus memecat 16 ribu karyawannya itu, dipaksa tenggelam oleh gelombang keras persaingan pasar. JAL juga hancur karena siklus bisnis yang keras serta terus berputar dan berbuntut pada munculnya kegagalan pasar.

Krisis keuangan global yang menghantam negara-negara maju, termasuk Jepang, ikut memperparah keadaan JAL. Perusahaan yang tadinya hanya bermasalah pada pembayaran utang, pun harus menghadapi masalah serius berupa merosotnya jumlah penumpang. Tentu, persoalan ini tidak hanya dialami JAL, tetapi juga penerbangan global lainnya.

Dan, ketika pasar bermasalah, pemerintah pun dipaksa harus turun tangan--kecuali kegagalan pasar akan berdampak buruk bagi ekonomi nasional. Lumrah, dalam mekanisme pasar yang diusung kapitalisme, jika pemerintah harus ikut-ikutan mem-bail out sebuah perusahaan ketika ada masalah yang tidak bisa diatasi oleh pasar itu sendiri.

Uniknya, ketika negara-negara lain terus melakukan proteksi terhadap ekonomi dan industri dalam negerinya, di Tanah Air dengan bangga kita membuka langit dan tanah kita dimasuki mekanisme pasar. Kita merasa sudah siap dan mampu bersaing dengan raksasa Cina, Australia, dan Selandia Baru dalam satu traktat hebat yang kita sebut perdagangan bebas.

Globalisasi memang menuntut adanya keluar masuk barang dan jasa tanpa ada hambatan, baik tarif maupun nontarif. Tetapi, untuk menuju ke sana, harus dipersiapkan berbagai infrastruktur dan daya saing industri ataupun kesiapan lokal. Apakah industri kita sudah efisien? Apakah birokrasi kita sudah bagus? Apakah insentif telah diberikan di sektor-sektor strategis?

JAL adalah sebuah contoh menarik. JAL dikenal efisien, maju, untung, dan mampu mengarungi lebih dari 200 bandara di dunia. Mereka memiliki dukungan dana kuat dan sokongan SDM yang hebat. Namun, JAL akhirnya terkapar oleh kerasnya pasar. Kegagalan pasar ikut menghancurkan JAL.

Kasus JAL merupakan pelajaran berarti bagi kita. Pertama, untuk menyusun kembali bisnis penerbangan yang dikelola pemerintah yang saat ini terlihat begitu terpecah-pecah. Merger, dengan satu perusahaan besar, menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan. Biarkan Garuda mengakuisisi Merpati dan Mandala untuk bisa terbang lebih tinggi dan lebih jauh.

Kedua, mekanisme pasar bukanlah sahabat yang baik bagi industri yang rentan dan lemah. Bukan rahasia jika banyak industri yang belum siap bertarung di mekanisme pasar bebas ASEAN plus Cina. Kecuali, kita mau melihat satu per satu usaha lokal jatuh atau dikuasai asing. 

Mari, tengoklah JAL. Dan, lihatlah kita.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar