Angkak untuk Penderita DBD, Perlukah?




ada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) biasanya didapatkan penurunan kadar trombosit yang drastis setelah hari ke-3.

Secara teori trombosit akan terus turun hingga hari ke-7. Meski begitu, bisa saja tidak harus seperti itu. Faktanya, banyak sekali ditemui, di hari-2 sudah terjadi penurunan trombosit dan banyak di antara pasien yang mengalami peningkatan trombosit mulai hari ke-6 atau ke-7. Tak jarang trombosit pun baru naik setelah hari ke-9.

Banyak orang percaya dan bahwa angkak mampu mengatasi persoalan menurunnya trombosit. Tapi perlukah?

Angkak pada dasarnya merupakan produk beras merah yang difermentasi dengan menggunakan kapang Monascus sp. Bahan ini berasal dari negari China dan kerap dikapai sebagai bahan makanan dan produk obat-obatan.Di Taiwan, Jepang, Korea, dan Hongkong angkak kerap digunakan sebagai pewarna makanan alami.

Cara kerja klinis angkak dalam menaikkan trombosit memang belum diketahui secara pasti. Tak heran bila terjadi kontroversi di dunia medis kedokteran tentang penggunaan angkak pada penderita DBD.

Padahal secara teori, persoalan utama bukan pada menaikkan trombosit. Yang penting pasien tidak kekurangan cairan. Dengan demikian cairan apapun bisa diberikan pada pasien DBD, entah itu air putih biasa, minuman berelektrolit, jus, maupun sari kurma.

Kekurangan cairan merupakan persoalan utama yang dialami pasien DBD. Ini terjadi akibat semua cairan yang dibutuhkan tubuh keluar sedikit demi sedikit dari pembuluh darah atau yang disebut leakage. Kebocoran dinding pembuluh darah ini wajar karena turunnya trombosit. Karena itu, pasien perlu banyak cairan supaya darah tidak mengental.

Jadi, agak sulit mengatakan bahwa pemakaian angkak terbukti menaikkan trombosit pada pasien DBD. Bagi pasien DBD yang penting adalah pemberian cairan yang memadai sehingga selamat dari kematian.

dr. Intan Airlina Febiliawanti


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar